Menjadi Hamba yang Hadir bagi Kesulitan Sesama
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
PERJALANAN hidup manusia di dunia ini beragam. Ada yang hidup berkecukupan dan tak sedikit pula dalam kesempitan. Orang-orang yang hidup serba cukup sangat menikmati kehidupannya, sementara orang yang dilanda kesulitan dan kepayahan tidak demikian. Kesenjangan tarap kehidupan sosial itu bukan untuk merendahkan satu kaum dan memuliakan kaum lainnya, akan tetapi agar tercipta saling tolong menolong antar sesama. Di akhirat kelak juga berlaku hal yang serupa. Sebagian hidup bahagia dan sebagian lagi sengsara. Kebahagian ataupun kesengsaraan yang dihadapi tidak ditentukan oleh status sosial seperti di dunia.
Agama Islam tidak abai dengan semua itu, sebesar apapun kesulitan yang dilalui seorang muslim kala itu dapat diringankan dengan cara meringankan beban saudaranya di dunia.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَـفَّسَ اللّٰهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَـى مُـعْسِرٍ، يَسَّـرَ اللّٰهُ عَلَيْهِ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allah memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. (HR. Muslim)
Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata, balasan yang diterima sesoerang berbanding lurus dengan jenis amal yang dilakukan. (Jâmi’ al-Ulûm wal Hikam, 2/285). Maksud dari ungkapan ini ialah setiap kebaikan yang dilakukan seseorang muslim di dunia akan dibalas di akhirat kelak sesuai kadar amal tersebut.
Kata kurbatan (kesusahan) dalam teks di atas juga bisa dipahami dengan kesedihan yang dialami, rasa sakit menimpa dan musibah yang melanda. (Ali al-Qari, Murqâtul Mafâtih Syarhu Miskâtul îh, 1/286). Jadi, keutamaan pertama melepaskan kesulitan seorang muslim ialah Allah swt akan meringankan segala urusannya di akhirat kelak. Maka oleh karenanya, seberapa banyak seseorang melepaskan beban saudaranya di dunia kelak akan diringankan kesulitannya oleh Allah Shubhnahu Waatala.
Selain diringankan kesulitan di akhirat, Allah Subhanahu Waatala akan selalu memberi pertolongan kepada orang gemar menolong. Sudah menjadi sunnatullah, inayah (pertolongan) Allah Subhanahu Waatala tidak akan menghampiri seseorang sebelum ia membantu saudaranya. Ibarat buah yang berada di pohon yang tinggi, akan sulit didapat tanpa menjolok dengan galah, maka seperti itu perumpamaan menolong orang lain. Selama pertolongan itu mengalir kepada saudaranya maka pertolongan Allah Subhanahu Waatala akan senantiasa membersamainya.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: وَاللّٰهُ فِـي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw bersabda: Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. (HR. Muslim)
Suatu hari Hasan al-Bashri mengirim beberapa orang sahabatnya untuk membantu kesulitan seseorang, lalu ia pun berkata, “Ajak Tsabit al-Bunani bersama kalian!” tegasnya. Kemudian mereka pun bergegas menemuinya. Sesampai di tempat yang dituju, Tsabit menolak dengan asalan sedang iktikaf. Para utusan itu kembali menemui Hasan al-Bashri dan mengabari bahwa Tsabit menolak. Lantas ia pun berkata, “Wahai Aqmasy, sampaikan kepadanya (Tsabit) bahwa membantu kebutuhan saudara sesama muslim lebih utama dari satu haji ke haji berikutnya. (Ibnu Raja, Jâmi’ Ulûl wal Hikam, 1014).
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwasanya beriktikaf di Masjid Nabawi selama satu bulan tentu memiliki banyak keutamaan, namun meringankan beban sesama muslim lebih utama dari itu. Dewasa ini sudah menjadi pandangan biasa seorang berangkat ke tanah suci tiap tahun namun membiarkan tetangganya hidup dalam kelaparan. Para ulama berkata: “Sesuap nasi untuk perut orang yang lapar lebih baik daripada membangun seribu masjid”(al-Ajluni, Kasyful Khofâ wa Mazîlul Ilbâsi, 131).
Allah Subhanahu Waatala selalu hadir bagi orang-orang yang membantu saudaranya yang mengalami kesulitan. Pertolongan diturunkan dari langit sesuai dengan kadar pembiayaan, dan kesabaran diturunkan sesuai dengan kadar musibah. (Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-Azhîm, 8/432)
Keutamaan lainnya bagi orang yang melepaskan kesulitan saudaranya ialah mendapat naungan Allah Subhanahu Waatala di akhirat kelak. Dimana kala itu tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
عَنْ أَبِي الْيَسَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ عَنْهُ أَظَلَّهُ اللّٰهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ
Dari Abu Al Yasar, ia berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa memberikan tangguh kepada orang yang mengalami kesulitan atau menggugurkan sebagian (hutang) darinya, maka Allah akan menaunginya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. (HR. Darimi).
Berpijak dari riwayat di atas dapat disimpulkan bahwan membebaskan hutang saudaranya yang sedang kesulitan mendapat naungan dari Allah Subhanahu Waatala di akhirat kelak.
Berdasarkan penjelasan di atas ditarik kesimpulan bahwa Islam bukan sekadar agama yang mengedepan spiritual, melainkan juga nilai-nilai sosial. Dua unsur itu satu dengan lain saling melengkapi, apabila salah satunya terpisah maka nilai-nilai luhur islam akan terciderai. Oleh sebab itu, meringankan kesulitan sesama muslim memiliki dimensi dunia dan akhirat. Maka dengan demikian hendaklah hidupkan sikap kepedulian sosial dengan saling tolong menolong dalam kebaikan.***

Tulis Komentar